Kamis, 09 Juli 2009

Kado Ulangtahun

Waktu itu hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya PD (percaya diri), ceria dan spontan blak-blakan. Meskipun terkadang dia bisa judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan perasaan yang nyaman bagi kita-kita. Buatku dia adalah yang terseksi.

Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput Dewiku. Dewi sudah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar makan malam, tetapi dia belum tahu ke manakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yang menawan, memakai rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran matanya menyorotkan hatinya yang senang. Aku membukakan pintu mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai jalan.

Sepanjang jalan kami bercanda ria, sambil tak lupa kusinggung penampilannya yang anggun sekali hari ini. Dan Dewi pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya. Dia bersikap manja sekali terhadapku, yang bisa membuat hatiku senang, menimbulkan perasaan suka yang dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di tempat tujuan. Dewi sekilas agak terkejut setelah melihat tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant atau hotel mewah yang menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan favoritnya. Kami pun jalan masuk ke dalam kedai tersebut dan mulai memesan makanan. Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil, kami pun terus mengobrol ngalor ngidul menunggu datangnya makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha menarik-narik tangannya dan berkata, “Aihh, malu ah”. Aku pun hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai memainkan jari-jari kakiku di betisnya yang ramping dan putih itu. Ahh, dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan datangnya makanan yang kami pesan.

Kami pun mulai menikmati kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku menyuapinya sekali-kali dan Dewi pun membalasnya. Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun dan mulai menyanyikan satu lagu yang khusus yang telah kuminta dari pengamen tersebut. Lagu dari Memes yang judulnya telanjur Sayang. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda merah tersipu, sambil tersenyum.

Malam pun semakin bertambah hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kami pun beranjak keluar. Tetapi malam belum berakhir bagi kami. Aku menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya.

Mobil mulai menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota. Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan. Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel, di mana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift. Sesampainya di kamar, Dewi langsung menyerbuku dengan menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku, tetapi aku menahannya karena masih ada sesuatu yang ingin kuberikan kepada Dewi, yaitu hadiah HUT-nya. Aku mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dan berkata, “Happy Birthday Sweetheart”. Dewi membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya, terlihat matanya memancarkan sinar, “Thanks Honey” dan merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit kecil. Aku berbisik padanya, “Di coba dong sayang.” Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari belakang.

Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke arah kiri dan mulai menciumi lehernya yang jenjang. Kumainkan bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh dengan ujung lidah dan kuhisap-hisap, sementara tanganku mulai mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak ke atas. Dewi sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku yang hanya berbalut pakaian dalam dari belakang.

Tiba-tiba Dewi membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku dengan ganas. Kami saling berpagutan, aku melahap bibir atas Dewi, dan Dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami berputar-putar di dalam mulut. Ciuman berpindah ke leher masing-masing dengan diselingi gigitan-gigitan kecil. Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku. Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yang berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk. Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya mengelus-elus kurvanya yang halus. Kumainkan jariku di antara belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-hisap putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, “Aahhh”, tanganku berusaha mencari kaitan BH-nya di punggung, sedangkan Dewi sudah berhasil menurunkan celanaku.

Kami hanya tinggal bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi dan memegangi kedua tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di dinding, aku memagut bibirnya yang merah merekah. Tangan kananku mengusap-usap lembut dadanya yang polos bersih. Sambil tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah, pemandangan yang tak akan kulupakan.

Aku pun melepaskan celanaku dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik, “Malam ini aku akan memanjakanmu, my princess”.
Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku, “Aku sayang kamu Roy”.
Aku pun menatapnya balik dengan lembut dan berkata, “Aku mau supaya malam ini kamu tidak membantah apa yang aku kata, aku masih ada sesuatu untukmu”.
“Ohh apa itu Roy?” tanyanya.
“Sssttt”, kataku sembari menutup mulutnya yang mungil dengan dua jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yang telah kusiapkan dari rumah.
Kemudian aku duduk di samping Dewi sambil berkata, “Aku akan menutup matamu sayang.”
“Ah tapi apaan sih kok tutup-tutup segala”, protes Dewi.
“Tenang honey, just trust me, Ok”, kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju. Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut.

Dengan perlahan aku membaringkan tubuh Dewi, namun berbalik telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah. Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku menjalar-jalar di punggung Dewi tepat di belahannya. Aku menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari tanganku saja, perlahan dari pundak sampai ke belakang lutut. Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di bawah lengannya, naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun, hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali kuturunkan hingga pangkal paha, di mana aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian dalam, bergantian kuelus dengan jari dan telapak tangan sambil kucium dan menjilat bagian belakang pahanya dan bagian belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah di mana aku mulai menghisap-hisap jari-jari kakinya dengan perlahan dan hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yang kuberikan ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke pantatnya di mana aku memainkan kepala kemaluanku di bulatan pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, kugesek-gesekan dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat dan perlahan lagi, sambil kutiduri Dewi dari atas. Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeras lidahku yang kubuat melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, tepat di tengah-tengah lehernya aku melahap, “Eehh, nnggg, Roy ayo Roy, ehmmmm.”

Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia sekarang berbaring telentang masih dengan mata tertutup. Aku pun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yang merah muda itu sambil menahan tangannya yang ingin memelukku. Dengan tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali kutarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup matanya. Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi.

“Ahhh Roy, kok kamu gitu sih, jangan bikin aku geregetan dong”.
Aku melahap lehernya yang putih, lidah-lidahku bergerak bergantian dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya bisa menggelinjang tinggi yang langsung kusambut dengan ciuman lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan ke bagian dadanya. Aku mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yang mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yang enak sekali. Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yang indah itu. Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yang merekah berdiri.

Aku menghisapnya bagaikan bayi yang sedang menyusui, sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku mengangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yang bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya, dan memasukkan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan kananku mulai bermain di bibir kemaluannya yang sudah merekah basah. Aku hanya menggesek-gesekkan jariku tanpa berusaha mengenai klitorisnya.

Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan mulai membuka bibir kemaluannya. Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai menggesek-gesek ujung lubang kemaluannya, sementara lidahku kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk ke dalam lubang kemaluannya, berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya dinding kemaluannya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding lubang kemaluannya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap klitorisnya, sementara jempolku kumainkan di antara bibir kemaluannya dan anusnya.

Dewi berontak bangun, “Cepat Roy, ayo masukin dong.., please!”.
Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku di antara selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yang menyelipkan salah satu pahanya ke selangkanganku. Kami pun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di arahkan ke lubang kemaluannya, dan “Aahhh”, kurasakan hangatnya kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot kemaluan Dewi. Dewi sekarang berada di atasku dan mengambil kendali. Dia menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil menciumiku dengan ganasnya.

Tubuh kami telah banjir keringat, aku meremas-remas dadanya, kemudian aku memeluk Dewi erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba aku merasakan sensasi yang luar biasa, sekujur tubuhku bergetar, terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi liang kemaluannya. Demikian pula dengan Dewi, dia memelukku erat-erat. Kami pun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai dalam rasa nikmat.

Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. Aku mengecup kening Dewi. “Happy Birthday Honey.”

TAMAT

Selasa, 07 Juli 2009

Vita............

Aku punya seorang pacar yang kuliah di salah satu universitas ternama yang berlokasi di daerah Grogol. Karena berasal dari daerah jawa Timur, maka pacarku tinggal di sebuah kost khusus mahasiswi. Saya sendiri sudah bekerja, dan juga berasal dari universitas yang sama. Secara keseluruhan, pacarku sangat baik, setia dan cantik, tetapi masih konvensional, alias tidak mau berhubungan sex sebelum menikah secara resmi. Sebaliknya, saya termasuk laki-laki yang mempunyai libido tinggi. Sementara ini saya hanya bisa memuaskan nafsu birahi saya dengan masturbasi, tetapi keadaan berubah 180 derajat setelah saya jadian dengan pacarku.

Setelah pulang kerja, saya langsung mengunjungi kost pacarku yang bernama Fransisca. Saya bagaikan masuk ke sebuah alam erotis ketika mengunjungi kostnya. Ada sekitar 8 penghuni yang terdiri dari mahasiswi tingkat 1 sampai tingkat 4 (Fransisca telah sampai pada tingkat 4), satu diantaranya yang tingkat 3 memiliki wajah yang cantik, namun badannya tidak selangsing Fransisca. Namanya Vita, kamarnya ada di lantai 3. Aku sering membayangkan bersetubuh dengan Vita, dan penisku memberikan reaksi yang sangat menyenangkan, yaitu orgasme. Aku sering bermasturbasi sambil membayangkan Vita, sampai akhirnya timbul sebuah ide nekat dan gila di benakku. Disinilah awal dari petualanganku yang nekat.

Aku memutuskan untuk mencuri celana dalam Vita. Telah beberapa kali aku naik ke lantai 3 bersama dengan Fransisca, di lantai 3 ada sebuah rak khusus yang digunakan oleh pembantu kost untuk menaruh pakaian yang telah dicuci. Bagusnya lagi, masing-masing rak telah diberi nama supaya memudahkan pengambilan oleh pemilik baju (dan tentunya memudahkanku juga untuk mengambil celana dalamnya).

Suatu sore ketika aku berkunjung, anak-anak kost yang lain bergerombol keluar untuk makan malam. Kebetulan juga, Fransisca sedang mandi, biasanya memakan waktu sekitar 15 sampai 25 menit. Aku mempunyai banyak waktu untuk melaksanakan rencanaku. Dengan jantung yang berdebar keras, keringat membasahi tubuhku, perasaan was-was dan tentunya penisku yang berdiri kegirangan. Terdapat 3 buah celana dalam yang berbahan licin dan halus di bawah 3 tumpuk BH nya. Langsung kuambil yang berwarna kulit (ada 2 warna; satu berwarna pink dan sisanya berwarna kulit) dan kutempelkan pada wajah horny ku dan kuhirup aromanya. Sayangnya yang tercium hanyalah wangi pelembut cucian, tetapi tetap tidak mengurangi rasa horny ku. Segera kumasukkan ke kantong celanaku dan meninggalkan TKP untuk menghindari resiko yang tertangkap yang memalukan. Aku kembali menunggu di lantai 2 dengan perasaan yang berdebar-debar takut ketahuan.

4 jam kemudian aku sudah sampai rumah. Langsung kumasuki kamar mandi, kulepas celana dan dan celana dalamku, kejantananku sudah basah dan siap untuk menerima hadiah yang telah ditunggu-tunggu. Dengan perasaan deg-deg-an ku keluarkan celana dalam Vita dan sekali lagi kutempelkan pada wajahku. Kuposisikan sisi dalam yang langsung bersentuhan dengan bibir vaginanya pada hidungku. Meskipun hanya tercium wangi dari pelembut, kubayangkan aku sedang menghirup aroma exotis dari vaginanya. Secara refleks, lidahku terjulur keluar dan kubayangkan sedang menjilati celah cintanya. Penisku makin bertambah keras dan panjang.

Kuposisikan bagian selangkangan celana dalamnya di kepala kejantananku, kemudian kubalutkan bagian lain dari celana dalamnya pada batang penisku. Tangan kiriku menggenggam penisku yang terbungkus oleh pengganti vagina Vita dan langsung mengocoknya dengan perlahan-lahan. Gesekan yang terjadi menimbulkan rasa sedikit perih pada penisku, tetapi hilang secara berangsur-angsur karena dilumasi oleh cairan pra ejakulasiku. Irama masturbasi kupercepat. Getaran-getaran listrik yang erotis terus membombardir syaraf-syaraf penis dan otakku. Akhirnya orgasme pun datang dengan indah. Tangan kananku menyingkap sebagian dari celana dalam Vita untuk mengeluarkan kepala penisku.

Sebetulnya aku ingin sekali mengeluarkan cairan kenikmatanku pada celana dalamnya, tetapi itu akan meninggalkan bukti yang jelas. Tiga semprotan panjang dan kuat mengawali arus orgasmeku yang indah. Setelah kenikmatan duniawiku berakhir, ku lepas celana dalamnya dari penisku dan mengamatinya. Terdapat bercak basah yang disebabkan oleh cairan pra orgasme ku. Di satu pihak aku ingin sekali meninggalkan jejak birahiku, tetapi di lain pihak aku takut ketahuan. Kalau ketahuan akan sangat memalukan dan menyusahkan. Kuputuskan untuk membiarkan apa adanya, kusimpan CD tersebut pada kantong celanaku dan kulanjutkan dengan mandi.

Malamnya aku bermasturbasi kembali dengan CD Vita. Benar-benar pengalaman yang menegangkan dan seksi.

Keesokan sorenya keadaan masih kondusif dan kukembalikan CD yang telah kunodai dan kuambil lagi yang lain, kali ini berwarna merah muda. Berbahan tipis licin dan halus dengan sedikit renda bermotif pada bagian depan. Hal ini terus berlanjut, terkadang hanya ada sebuah CD pada tumpukan bajunya, sehingga aku terpaksa harus melakukannya dengan cepat di wc kos. Minggu berikutnya aku dikejutkan dengan impianku. Ketika ku hirup aroma dari CD nya, aku mencium sesuatu yang sudah kukenal dengan baik, dan kejantananku pun membenarkannya. Aku mencium aroma exotis dari CD nya. Bagian CD yang bersentuhan langsung dengan surga duniawinya terasa agak lembab dan kaku. Tidak salah lagi, ini adalah aroma segar dari madu cintanya. Setelah sampai di rumah, ku tempelkan CD Vita pada mulut dan hidungku, dan kuhirup dalam-dalam. Jantungku berdebar kencang karena kegirangan tetapi ada juga rasa takut yang menyelimuti pikiranku.

Apa maksud dari semua ini? Tapi saat ini aku tidak peduli. Langsung kubalutkan penisku dengan CD nya dan masturbasiku terasa beda, lebih indah, lebih menggetarkan. Kali ini aku benar-benar hilang dalam kenikmatan yang dihasilkan oleh penisku. Sampai akhirnya madu murniku bertemu dengan madu cinta Vita. Entah berapa gelombang kenikmatan orgasmik yang kualami. Ketika tersadar, bagian selangkangan CD nya telah dipenuhi dengan madu kental berwarna putih kekuningan.

Keesokan harinya kukembalikan CD yang kuambil kemarin dan kutukar dengan yang baru. Celana dalamnya juga masih memiliki aroma exotis yang sama. Tidak terlihat perubahan pada sikap dan ekspresi wajah Vita ketika kami saling bertemu pandang. Hari berikutnya aku dikejutkan dengan celana dalam Vita yang benar-benar masih basah, aromanya benar-benar segar dan memabukkan. Sepertinya Vita baru saja selesai bermasturbasi dan sengaja membiarkanku menemukannya. Kesadaranku telah diambil alih oleh penisku, langsung aku masuk kamar mandi yang letaknya berseberangan dengan kamar Vita. Kepala kejantananku tidak henti-hentinya bergetar ketika bagian selangkangan yang basah itu menempel dengan lembut dan hangat. Baru saja kukocok beberapa kali, tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamar mandi. Aku terkejut dan dengan cepat menyimpan kembali kejantananku dan mengantongi CD Vita, dan berpura-pura menyiram closet.

Ketika pintu kubuka, Vita berdiri tepat di hadapanku dan mendorongku kembali dalam kamar mandi. Kali ini Vita juga berada di dalamnya. Keringat dingin bercucuran dari tubuhku. Tangan-tangan Vita langsung merogoh-rogoh semua kantongku dan akhirnya ia mendapatkan celana dalamnya yang kusimpan di kantong belakang.

“Aku sudah tahu.. Ko Indra lah pelakunya..” ungkap Vita.

Tiba-tiba Vita langsung membuka celanaku dan mengeluarkan penisku yang sempat melemas karena shock. Dengan kedua tangan ia membelai dan meremas-remas dengan lembut penisku yang sudah basah. Rasa horny dan keringat dingin masih menyelimuti tubuh dan pikiranku. Namun, kejantananku kembali berereksi di dalam belaian Jari-jari Vita yang cekatan. Pandangan Vita terus terpana pada penisku. Ketika penisku sudah mencapai ketegangan maksimalnya, mulut Vita sedikit terbuka, nafasnya memburu sambil mengeluarkan desahan halus. Kedua tangannya dengan perlahan namun mantap bermain dengan kejantananku. Suara di dalam hatiku mengatakan inilah saatnya, lagipula aku yakin Vita bukan lagi seorang gadis perawan.

Kuangkat dagunya sehingga aku dapat melihat wajahnya dengan dekat. Ia menginginkannya, itulah ekspresi yang tertulis jelas pada wajahnya. Langsung kucumbu bibirnya yang segar dan kedua tanganku langsung menyingkap bagian bawah daster berwarna putih yang dimulai dari pertengahan paha. Kejantananku bergetar dan menjadi lebih keras dan panjang. Vita tidak memakai celana dalam, pantatnya yang lembut dan kenyal ku remas-remas. Demi menghemat waktu, tangan kiriku langsung mendarat di lembah cintanya yang kebanjiran, dan tangan kananku menuju puncak buah dadanya (juga tanpa BH). Dadanya yang berukuran 36C ku remas-remas dan klitorisnya pun mendapatkan pelayanan istimewa dari jari-jariku.

Tubuh Vita tak henti-hentinya bergetar dan mempercepat irama kocokan tangannya pada penisku. Ku senderkan Vita pada dinding kamar mandi, kuangkat kaki kirinya, kemudian tangan kiriku menuntun kejantananku menuju lembah cinta duniawi. Vita hanya berdiri pasrah menunggu penisku. Ketika ujung kepala penisku bersentuhan dengan bibir vaginanya yang basah dan hangat, Aku pun sempat bergetar. Perlahan-lahan kudorong masuk kepala penisku. Tidak ada hambatan dan gesekan yang bearti, karena celah cintanya benar-benar basah dan licin. Mulut Vita terbuka lebar, matanya tertutup rapat.

Kudorong lagi sampai hampir setengah dari panjang penisku, kemudian kutarik keluar dan kudorong masuk lagi. Sedikit demi sedikit akhirnya seluruh penisku sudah tertanam di dalam vaginanya yang sempit dan basah. Untuk sesaat aku tidak bergerak dan merasakan dinding-dinging liang cintanya mendekap kejantananku. Kulihat jam tanganku, hanya tersisa 10 menit sebelum Sisca keluar dari kamar mandinya.

Vita memelukku dengan erat, aku langsung menyetubuhinya dengan perlahan-lahan. Setiap tarikan dan dorongan menciptakan sensasi erotis yang sangat indah. Irama kupercepat bagaikan piston mobil yang memompa dalam putaran mesin yang tinggi. Desahan dan erangan Vita makin membuatku bernafsu, apalagi tidak sampai 2 menit Vita sudah meluncur ke alam orgasme yang tiada batasnya. Aku jadi berpikir, siapa yang sebenarnya lebih horny dan menikmati permainan ini. Jawabannya sudah jelas.

“Penisnya besar dan kuat sekali..” Vita membisikkan kata-kata tersebut di telingaku sambil terus menikmati persetubuhan ini.
“Memangnya kamu belum pernah ketemu yang sebesar ini?”
Vita menggeleng, “Punya cowokku cuma 5 cm dan kurus..”
“Jadi lebih enak yang mana?” tanyaku.
“Tentu saja punya Ko Indra, rasanya benar-benar pas..”

Vita yang baru berumur 20 tahun benar-benar cocok dengan seleraku. Aku paling suka bercinta dengan daun-daun muda. Vita, daun mudaku yang cantik, akan kubuat dia tidak dapat melupakan persetubuhan ini. Setelah Vita selesai menikmati sisa-sisa orgasmenya, ia melepaskan diri dari dekapanku dan berlutut di hadapan kejantananku.

Lidahnya terjulur dan menyapu sepanjang batang penisku yang basah diselimuti oleh madu cintanya. Dengan cekatan Vita menjilati penisku, kemudian mengulum kepala penisku yang merah. Mulutnya yang hangat ditambah dengan tarian liar yang dilakukan oleh lidahnya membuat penisku berdenyut-denyut seperti orgasme. Untuk beberapa saat ia hanya mengulum kepala penisku, kudorong kepalanya dengan lembut.

Vita mengerti apa yang kuinginkan, ia mulai melahap seluruh batang penisku. Ia sedikit mengalami hambatan yang disebabkan oleh panjangnya kejantananku. Namun rongga mulutnya dengan cepat dapat beradaptasi, sehingga Vita pun bercinta dengan kejantananku menggunakan mulutnya. Guncangan kuat mengawali orgasmeku yang kencang dan hebat. Vita sempat tersedak dan mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya. Kupegang penisku sambil mengocoknya, mulutnya yang terbuka menjadi sasaran tembak madu kejantananku. Beberapa tetes maduku mengenai hidung dan pipinya. Pemandangan yang erotis sekali. Vita menutup mulutnya dan langsung menelannya. Kemudian penisku kembali hilang di dalam mulutnya. Lidahnya sibuk menyapu sisa-sisa maduku dan dihabiskan semuanya.

Kusuruh Vita berdiri, ia menatapku dengan expresi puas dan nakal, senyumnya yang manja ditambah dengan noda madu putihku yang masih menempel di wajahnya membuat ku horny lagi. Jari telunjuk dan tengah tangan kanannya menyapu hidung dan pipinya, kemudian jarinya langsung dikulum di dalam mulutnya.

Sudah saatnya aku keluar dan menunggu di tempat biasa. Vita dengan cepat menyelipkan selembar kertas kecil ke kantong celanaku. Kertas itu berisikan no telepon Vita.

Vita membantuku merapikan baju dan celanaku.

“Besok, jangan ambil celana dalamku lagi..”

Timbul rasa kecewa di dalam hatiku.

“Langsung saja..” Vita menempelkan tanganku pada pintu kenikmatan duniawinya.

Aku yakin ia telah merasakan arti sebenarnya dari bercinta. Meskipun kilat, namun menimbulkan kesan yang dalam. Kuhapus keringatku dengan tissue dan menyambut Sisca yang baru selesai mandi.

Setelah hari ini hampir setiap hari kami bercinta kilat di kamar mandi lantai 3. Vita menjadi tempat pelampiasan nafsuku yang menggebu-gebu. Hubunganku dengan Vita hanyalah murni sebatas kenikmatan seksual, karena kami sangat menikmatinya.

Minggu, 05 Juli 2009

Malam Pertama Lagi

Kisah ini terjadi delapan tahun dari sekarang, tepatnya tahun 2011. Kisah ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang menjalin cinta sejak di bangku kuliah. Sang lelaki adalah seorang pengacara muda yang sangat haus akan hubungan sex, sedangkan sang wanita adalah seorang yang rada ngeri dengan sex. Maklum, masih perawan.

Pada hari yang telah ditentukan, mereka melangsungkan akad nikah. Bezita (nama samaran sang lelaki) sudah merencanakan bahwa resepsi pernikahan ini hanya berlangsung satu hari dan hanya beberapa jam saja di gedung sewaan. Setelah itu keduanya langsung pergi ke hotel yang telah dipesan.

Malam itu, Bezita dan Burma (nama samaran sang perempuan) sangat lelah setelah ngobrol dengan orangtua dan sanak famili mereka. Mereka bersyukur para “tamu tak diundang” sudah pada pulang. Akhirnya tinggallah mereka berdua di hotel bintang lima itu. Terlebih dahulu Burma membersihkan make up yang menempel.
“Papa mandi duluan gih. Ntar Mama nyusul” kata Burma dengan lembut sambil mengelus kepala suaminya.
“Nggh, Papa duluan ya Ma,” Bezita menggeliat bangun sambil mencium bibir istrinya dengan mesra.
“Hmm” Burma membalas ciuman itu dengan hangat.

Kemudian terdengar desir shower yang membasahi tubuh Bezita. Sementara Burma menunggu sambil membaca majalah wanita (padahal Bezita sengaja membeli majalah-majalah erotis supaya Burma terangsang). Burma adalah tipe wanita yang tidak ingin tahu soal hubungan sex, bahkan sejak di bangku kuliah. Paling-paling hal yang dilakukan sama Bezita dulu hanya sebatas ciuman saja.
Lima belas menit kemudian Bezita memanggil dari kamar mandi.
“Ma, mandi bareng yuk!” Burma kaget dan langsung menolak ajakan itu.
Tapi Bezita nekat, dengan tubuh yang telanjang bulat dan penis yang menegang, dia berjalan menyusuri kamar dan menggendong istrinya.
“Papa apa-apaan? Baju Mama jadi basah ni!” Burma meronta, tapi percuma. Bezita begitu kuat mencengkeram.
“Nggak apa-apa Ma!”

Bezita membanting pintu kamar mandi. Dengan masih berpakaian lengkap Bezita menggiring tubuh istrinya hingga kebasahan kena air shower. Burma teriak-teriak seperti orang yang akan diperkosa. Bezita mendempet tubuh istrinya sehingga Burma tidak dapat bergerak lagi.
“Papa jangan Pa! Jangan di sini!” tangisnya meledak.

Bezita hanya tersenyum saja. Dia dengan cepat melepas kaos istrinya hingga mencuatlah BH yang membungkus payudara berwarna coklat mulus. Burma tambah histeris.
“Aahh!! Paa jangan!” jeritnya mengiba ketika Bezita melepaskan kaitan BH Burma. Sekarang ia sudah telanjang dari pinggang ke atas.

Burma mencoba menahan kepala Bezita yang memainkan lidahnya di kedua buah dadanya sambil manahan juga rangsangan yang hebat dari Bezita yang kini menghisap kedua puting susunya kanan-kiri. Kedua puting itu mengeras dan membesar.
“Aauuhh! Paa udah dong jangan di sini!”

Tangan Bezita lebih kasar lagi, sekarang dia menyusup ke balik celana panjang Burma dan berusaha melepaskan celana itu. Tangan Burma mencegah tangan suaminya melepaskan celana panjangnya. Percuma, celana panjang terlepas sudah. Sekarang yang tersisa hanyalah celana dalam. Burma mati-matian mempertahankan “benteng terakhirnya” itu.

Suara Burma yang menangis itu ternyata membangkitkan rangsangan Bezita. Dia langsung menyusup ke balik CD istrinya dan kemudian mengelus vagina yang ternyata udah basah dari tadi. Entah apakah basah karena air shower atau emang udah basah karena cairan vagina itu sendiri.
Jari telunjuk Bezita mengelus-elus permukaan vagina yang licin itu sampai Burma mendesah-desah, ” Aahh, aahh.. uddah Paah!”

Muka Burma memerah seperti udang rebus. Tanpa sadar Burma merenggangkan kakinya sehingga Bezita dengan mudah melepaskan CD. Sekarang mereka berdua telah tenajang bulat. Bezita menggencet tubuh istrinya di tembok dan kemudian penis yang sudah menempel di perut Burma dia goyang-goyang seperti gerakan bersetubuh. Burma berteriak mengelinjang sementara bibir dan lidah Bezita sibuk mengecup dan menjilat leher dan tengkuk istrinya. Tak lupa pula bibir Burma ia kulum seperti permen. payudaranya juga tidak luput dari remasan tangan yang sudah terbakar nafsu birahi.

Pantat Bezita terus menggenjot penis yang menekan perut Burma.
“Aaahh, Papa janggan Paahh berentii doonng” Burma sudah kepayahan digencet terus di tembok. Sebenarnya Burma merasakan rangsangan yang hebat, tetapi dia tidak mau mengakui kalau dia terangsang hebat. Seandainya saja dia mau mengakui tentu dia akan menikmati permainan ini.
Bezita semakin keras menggoyangkan pantatnya dan akhirnya terjadilah semburan yang dahsyat yang membanjiri perut Burma!
“Aahhkk!” Bezita Vaginaik tertahan.
“Uuuhh!!” Burma ternyata mengalami orgasme juga.
Vaginanya basah sekali oleh lendir dari liang kewanitaannya.

Burma yang kelelahan terduduk di lantai kamar mandi. Penis Bezita yang masih setengah bangun dituntun masuk ke mulut Burma. Burma yang merasa jijik kontan saja melepehkan penis itu. Melihat reaksi seperti itu langsung saja Bezita mencengkeram kepala Burma. Penis itu lalu dihisap sampai menegang lagi dan Bezita mengoral Burma. Goyangan semakin liar dan Burma pun tampaknya menikmati oral sex ini, walau masih malu-malu.

Bezita yang semakin terangsang menjambak rambut Burma dan menggerakkan kepala istrinya maju-mundur sambil menggoyangkan pantatnya. Sepuluh menit kemudian Bezita merasa akan mencapai klimaks lagi. Dia tahan kepala istrinya supaya nggak memuntahkan spermanya.
Croot! Croot! Sperma tertumpah di dalam mulut Burma.
“Hhhkk!” Burma mau muntah tapi ditahan suaminya.
“Tahan sayang! Telan! Ini obat awet muda!” seru Bezita sambil keenakan. Akhirnya dengan susah payah Burma menelan semua sperma suaminya.

Sambil menyeka sisa sperma yang menetes, Burma bangkit dan berkata, “Pa, permainanmu dahsyat banget. Sebenarnya Mama pengen dari dulu begini sama Papa”
Bezita tersenyum mendengar penuturan istrinya.
Mereka mandi bersama sambil berpelukan selama hampir dua jam.

Setelah puas bermandi-mandi, mereka nonton DVD berdua. Bezita menyuruh Burma mengenakan tank top untuk olahraga yang memperlihatkan bagian perut yang masih rata dipadu dengan celana dalam yang serasi warnanya, sementara Bezita sendiri mengenakan celana dalam saja.

Bezita sengaja mengajak istrinya nonton film biru agar Burma makin terangsang. Mereka duduk di lantai yang berkarpet mewah, bukan di tempat tidur. Burma nampak kedinginan karena AC-nya menyala terus. Bezita memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil menempelkan kemaluannya di punggung istrinya. Tangannya iseng meremas payudaranya.
“Mama kedinginan ya?” tanya Bezita sambil terus meremas.
Mata Burma tak lepas dari film jorok itu.

“Pa,”
“Hmm?”
“Mama mau deh sekarang kita melakukan kayak gitu” kata Burma sambil menunjuk pria bule yang sedang menyetubuhi perempuan Asia.
Setelah berkata begitu, Burma memandang lekat-lekat suaminya dengan penuh cinta. Mereka bangkit lalu berbaring di kasur. Sementara DVD terus menyala.

Mereka berbaring sambil bercengkrama. Ternyata Burma hanya berpura-pura menolak waktu di kamar mandi. Sebenarnya dia hanya nggak mau keperawanannya hilang di kamar mandi. Mendengar hal itu Bezita mencium bibir istrinya dengan penuh kasih sayang. Burma membalas ciuman itu dengan birahi membara. Ditindihnya Bezita hingga kehabisan nafas. Bezita nggak tinggal diam. Dicopotnya tank top Burma dan kembali mencumbui daerah dada wanita itu.

Tak lama kemudian keduanya telah telanjang bulat. Penis Bezita memanjang kembali. Burma memeluk suaminya dengan erat. Bezita berguling sehingga badannya kini berada di atas Burma.
“Setubuhi Mama, Pa! Renggutlah keperawanan Mama sekarang!”

Bezita sudah tidak bisa menahan nafsunya. Kini mereka berdua sudah benar-benar dalam posisi siap untuk melakukan. Burma di bawah, dan Bezita di atas. Hanya saja Bezita masih memainkan ujung penisnya di klitoris istrinya yang vaginanya sudah banjir memerah mekar menunggu dijebol!
“Papa masukin ya Ma.” Bezita memasukkan penisnya perlahan.
“Aaaoouuhh..” desah Burma keenakan.
Matanya terpejam. Dadanya menempel pada dada Bezita.

Sampai suatu saat Bezita merasakan ada yang menghalangi jalan masuk penisnya. Batang penis yang mempunyai panjang 13 cm itu sulit untuk masuk. Dengan sedikit iseng Bezita menyodok-nyodokkan pelan ke selaput dara istrinya.
Burma langsung merintih.
“Uuuhhkk.. enak Pa.”
Bezita dengan sedikit tenaga menghujamkan penisnya melewati selaput itu. Selaput dara istrinya langsung robek.
“Aduuhh sakit Paa..!” Burma tiba-tiba menjerit kesakitan.
Bezita langsung mencium istrinya. Penisnya tidak digerakkan dulu menunggu sampai vagina istrinya terbiasa dengan penis yang masuk.

Burma terisak-isak, tidak menyangka akan segini sakit padahal vaginanya sudah banjir dari tadi. Dengan cueknya Bezita menggenjot penisnya. Darah menetes dari vagina Burma yang masih kesakitan. Terdengar nafas Bezita yang memburu seperti sedang maraton. Setelah semakin lancar maju-mundur, terlihat di wajah Burma mulai menunjukkan tanda-tanda kenikmatan.
Peluh mulai membasahi keduanya.
“Gimana sayang, masih sakit?” tanya Burma yang terlihat keenakan.
“Ngga lagi Pa, ayo terus Pa! Enak, tusuk terus Pa!” Burma menjawab sambil komat-kamit nggak jelas.
Bezita makin mempercepat goyangannya. Lima menit kemudian terasa tubuh Burma bergetar dan dia melenguh panjang.
“Uuuhh!!”

Merasa istrinya sudah orgasme, Bezita mempercepat tusukannya, semakin cepat dan, “Oookkhh!”
Cairan mani menyembur hangat di dalam liang vagina Burma. Cairan itu menetes keluar vagina saking banyaknya. Burma tertelentang pasrah sambil menarik napas terengah-engah, sedangkan Bezita tertelungkup tak berdaya di atas tubuh istrinya. Penisnya masih tertancap, walaupun sudah lemas.

Bezita lalu berguling ke samping dan bertanya, “Gimana Ma? Enak ngga?”
Burma nggak bisa berkata apa-apa lagi. Raut wajahnya kelihatan puas. Dia hanya mengangguk lemas.
Tapi tak lama kemudian Burma berhasil membangkitkan kembali birahi suaminya dan membuat mereka melakukan kembali. Kali ini Bezita terlentang di bawah sedangkan Burma duduk di atas penis suaminya sambil memunggungi Bezita. Burma ternyata wanita yang sangat tangguh. Sepuluh menit tidak ada tanda-tanda ingin orgasme.

Tak berapa lama Bezita merasakan genjotan istrinya semakin cepat dan penisnya serasa dijepit oleh jepitan yang sangat kuat. Burma orgasme lagi. Bezita belum mau keluar. Dia suruh Burma nungging di atas tempat tidur. Dari belakang kemudian dia menusukkan penisnya seperti anjing yang sedang kimpoi. Bezita lalu menempelkan dadanya ke punggung Burma. Tak lupa tangannya menggerayangi payudara yang seperti bola itu.

Burma merasa cengkeraman tangan Bezita di payudaranya makin mengencang dan goyangan suaminya semakin cepet.
“Uuukhh, croot croot”
Cairan mani yang hangat kembali membasahi vagina Burma. Mungkin karena pengaruh mani suaminya Burma mengalami orgasme lagi. Dia sudah tidak memperdulikan rasa sakit akibat kehilangan keperawanan.

Ketika suaminya mencabut penisnya dan berbaring kembali, Burma berbisik, “Vaginaku robek besar. Kaurenggut keperawananku. Tapi aku sadar, semua bagian tubuhku adalah milikmu. Aku cinta kamu, Pa”
Burma lalu mencium kening suaminya yang tertidur. Sejak saat itu Burma selalu meminta hubungan sex di manapun dan kapanpun ada kesempatan. Dia jadi lebih maniak sex dibanding Bezita.

E N D

Jumat, 03 Juli 2009

Malam Pertamaku

..Saya terima nikahnya..”,
Masih terbayang dalam ingatanku perasaan bahagia dan lega saat selesai mengucapkan ijab kabul di muka penghulu tadi pagi. Bahagia karena berhasil menyunting gadis yang kucintai, lega karena telah berhasil melewati cobaan dan rintangan yang sangat berat selama hampir sepuluh tahun hubungan kami.

Wangi melati harum semerbak sampai ke setiap sudut kamar pengantin yang dihias berwarna dominan merah jambu. Dan, di sisiku terbaring gadis yang amat sangat kucintai, berbalut daster tipis yang juga berwarna merah jambu. Matanya yang indah dan bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi halus dan mulus. Dia, yang kukenal saat sama-sama duduk di bangku kuliah, yang menjadi incaran para pemuda di kampus, sekarang telah resmi menjadi istriku.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran. Masa pacaran kami memang tidak terlalu “bersih”, saling cium, saling raba bahkan sampai ke tingkat Heavy Petting sering kami lakukan. Tapi, dengan penuh rasa sayang dan tanggungjawab, aku berhasil mempertahankan kesuciannya sampai saat ini. Aku bangga akan hal itu.

Suasana yang romantis ditambah dengan sejuknya hembusan AC sungguh membangkitkan nafsu. Kupeluk dia, kukecup keningnya lalu kuajak dia untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan mertua laki-lakiku tadi. Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar. Sungguh pintar dia ini memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, dia juga telah berhasil membuka kancing piyamaku, melepas singlet dan juga celana panjangku. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dia tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. dia mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, membuat kemaluanku yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara dia rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh dia mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya.

Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik,
“Ohh, nikmat sekali. terima kasih sayang.”
Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasku sebagai suami. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. dia merintih keras, dan karena mungkin kesakitan, tangannya mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Setelah beristirahat beberapa lama, kucoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Aku sangat mencintainya sehingga aku tidak tega untuk menyakitinya.
Malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Dia meminta maaf, dan dengan tulus dan penuh kerelaan dia kumaafkan. Malam itu kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk diakal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga?

Malam Kedua.
Jam 10 malam kami berdua masuk kamar bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok Saudara-Saudara Iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran-sindiran yang mengarah dari mulut Saudara-Saudara Iparku, kutanggapi dengan senang dan bahagia.
Siang tadi, kami berdua membeli buku mengenai Seks dan Perkimpoian, yang di dalamnya terdapat gambar anatomi tubuh pria dan wanita. Sambil berpelukan bersandar di tempat tidur, kami baca buku itu halaman demi halaman, terutama yang berkaitan dengan hubungan Seks. Sampai pada halaman mengenai Anatomi, kami sepakat untuk membuka baju masing-masing. Giliran pertama, dia membandingkan kemaluanku dengan gambar yang ada di buku. Walau belum disentuh, kemaluanku sudah menggembung besar dan keras. dia mengelus dan membolak balik “benda” itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Hampir saja dia memasukkan dan mengulumnya karena tidak tahan dan gemas, tapi kutahan dan kularang. Aku belum mendapat giliran.

Kemudian, kuminta dia berbaring telentang di tempat tidur, menarik lututnya sambil sedikit mengangkang. Mulanya dia tidak mau dan malu, tapi setelah kucium mesra, akhirnya menyerah. Aku mengambil posisi telungkup di bawahnya, muka dan mataku persis di atas vaginanya. Terlihat bagian dalamnya yang merah darah, sungguh merangsang. Dengan dua jari, kubuka dan kuperhatikan bagian-bagiannya. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat kemaluan seorang wanita dengan jelas. Walaupun sering melakukan oral, tapi belum pernah melihat apalagi memerhatikannya karena selalu kulakukan dengan mata tertutup. Aku baru tahu bahwa klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kujaga utuh selama 10 tahun. Jauh dari bayanganku selama ini. Selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Ditengahnya ada lubang kecil. Sayang aku tidak ingat lagi, seperti apa bentuk lubang tersebut.

Tidak tahan berlama-lama, segera kulempar buku itu ke lantai, dan mulai kuciumi kemaluan dia itu. Kumainkan klitorisnya dengan lidahku yang basah, hangat dan kasar, hingga membuat dia kembali mengejang, merintih dan mendesah. Kedua kakinya menjepit kepalaku dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi. Kupilin, kusedot, dan kumain-mainkan benda kecil itu dengan lidah dan mulutku. Berdasarkan teori-teori yang kuperoleh dari Buku, Majalah maupun VCD Porno, salah satu pemicu orgasme wanita adalah klitorisnya. Inilah saatnya aku mempraktekkan apa yang selama ini hanya jadi teori semata.

Dia semakin liar, bahkan sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat. Dia lalu menarik pinggulku, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepalaku berada di depan kemaluannya, sementara dia dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah sangat keras dan besar. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, aku segera mengubah posisi. Muka kami berhadapan, kembali kutatap matanya yang sangat indah itu. Kubisikkan bahwa aku sangat menyayanginya, dan aku juga bertanya apakah kira-kira dia akan tahan kali ini. Setelah mencium bibirku dengan gemas, dia memintaku untuk melakukannya pelan-pelan.

Kutuntun kemaluanku menuju vaginanya. Berdasarkan gambar dan apa yang telah kuperhatikan tadi, aku tahu di mana kira-kira letak Liang Senggamanya. Kucium dia, sambil kuturunkan pinggulku pelan-pelan. Dia merintih tertahan, tapi kali ini tangannya tidak lagi mendorong bahuku. Kuangkat lagi pinggulku sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kutahu bahwa dia juga sangat menginginkannya. Setelah kuminta dia untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti kutekan pinggulku, kumasukkan kemaluanku itu sedikit demi sedikit. Kepalanya terangkat ke atas menahan sakit. Kuhentikan usahaku, sambil kutatap lagi matanya. Ada titik air mata di sudut matanya, tetapi sambil tersenyum dia menganggukkan kepalanya. Kuangkat sedikit, kemudian dengan sedikit tekanan, kudorong dengan kuat. Dia mengerang keras sambil menggigit kuat bahuku. Kelak, bekas gigitan itu baru hilang setelah beberapa hari. Akhirnya, seluruh batang kemaluanku berhasil masuk ke dalam lubang vagina dia tercinta. Aku bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasku. Kucium dia dengan mesra, dan kuseka butir air mata yang mengalir dari matanya. Dia membuka matanya, dan aku dapat melihat bahwa dibalik kesakitannya, dia juga sangat bahagia.

Perlahan kutarik kemaluanku keluar, kutekan lagi, kutarik lagi, begitu terus berulang-ulang. Setiap kutekan masuk, dia mendesah, dan kali ini, bukan lagi suara dari rasa sakit. Kurasa, dia sudah mulai dapat menikmatinya. Permukaan lembut dan hangat dalam liang itu seperti membelai dan mengurut kemaluanku. Rasa nikmat tiada tara, yang baru kali ini kurasakan. Aku memang belum pernah bersenggama dalam arti sesungguhnya sebelum ini. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepala dia mulai membanting ke kiri dan ke kanan, diiringi rintihan dan desahan yang membuat nafsuku semakin bergelora. Tangannya memeluk erat tubuhku, sambil sekali-sekali kukunya menancap di punggungku. Desakan demi desakan tidak tertahankan lagi, dan sambil menancapkan batang kemaluanku dalam-dalam, kusemburkan sperma sebanyak-banyaknya ke dalam rahim dia. Aku kalah kali ini.

Kupeluk dan kuciumi wajah dia yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih. Matanya yang bening indah menatapku bahagia, dan sambil tersenyum dia berkata, “sama-sama.” Kutitipkan padanya untuk menjaga baik-baik anak kami, bila benih itu tumbuh nanti. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput dara dia cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus ke kasur. Akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, aku berhasil membawa dia orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Aku yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, sehingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat.

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam.Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

TAMAT

Rabu, 01 Juli 2009

Berkah Ban Bocor

Wah! Segarnya udara desa! kataku dalam hati. Matahari sore menyinari wajahku yang tampan dan tak berjerawat. Telah lama aku menunggu kesempatan untuk berkelana ke desa-desa yang masih belum banyak dikunjungi orang-orang kota.

Aku adalah seorang programmer yang bekerja di Amerika. “Dorr!” Terdengar suara letusan dan dengan terpaksa aku menghentikan mobilku. Ternyata ban mobilku meletus. Kiri kanan tidak ada satu orang pun. Malam telah menjelang dan matahari telah tenggelam di balik pegunungan di sebelah Barat. Dengan berat hati aku berjalan kaki dan meninggalkan mobilku di sana. Memang hari sialku. Ban serep yang biasa kusimpan di dalam bagasi lupa kubawa.

Baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara sepeda motor dari belakang. Sepeda motor itu dikemudikan oleh seorang kakek-kakek. Sepeda motor itu berhenti seketika saat melihatku.

“Excuse me, may I know how long is it to the nearest village?” Sapaku ramah, aku takut dia tidak mengerti bahasa Inggrisku yang kurang lancar ini.
“Loe orang Indo ya?” tanya kakek itu.
“Kakek juga dari Indonesia?” tanyaku penasaran.
“Duduklah di belakang, gue bonceng ke rumahku. Tak jauh kok.” Jawabnya dengan tawa kecil. Aku duduk berboncengan dengan kakek itu. Setelah melewati lahan-lahan yang berwarna kuning emas akhirnya kami sampai di sebuah rumah kuno dari kayu.

“Ini adalah rumahku. Mari masuk.” kata kakek tersebut mempersilakanku.
Sewaktu memasuki rumah itu, bulu kudukku mulai berdiri.
“Anna, buatkan dua gelas kopi, kita ada tamu nih.” kata kakek tersebut menyuruh seseorang.
Dari arah dapur muncul seorang bidadari, wajahnya cantik, badannya seksi, dan dia memakai baju yang super ketat. Setelah menuangkan dua gelas kopi dia masuk ke dapur dan menyibukkan diri.

“Anak muda, siapa namamu?” kata kakek tersebut ramah.
“Oh maaf, namaku Alvin. Aku bekerja untuk IBM. Tadi banku meletus..”
“Anak muda, malam ini kamu tidur di kamar Anna saja, sebab kamar Anna satu-satunya yang ada dua ranjang.”
“Maaf, boleh saya tahu nama kakek?”
“Ho ho ho… Namaku Dayat, dua tahun yang lalu aku dan cucuku, Anna, berimigrasi ke sini. Kelihatannya kamu ada minat dengan cucuku ya?”
Aku tersentak kaget, bagaimana dia tahu?
“Itu sudah biasa anak muda, kalau saya masih seumur denganmu mungkin sudah saya ajak kimpoi dia.”
“Pak Dayat, saya mohon diri, saya mau tidur dulu.”
“Silakan, tapi jangan keluar dari rumah ini setelah tengah malam, sebab terlalu bahaya.”
“Terima kasih atas semuanya, boleh saya tahu kamarnya yang mana Kek?”
“Kamar di pojok kanan.”
Setelah itu kakek tersebut masuk ke kamar di pojok kiri.

Aku masuk ke kamar dan ternyata kamar itu tidak ada orang. Dua buah ranjang yang dimaksud kakek tersebut masih rapi dan berdampingan. “Wah, malam ini bisa main deh”, pikiran nakalku mulai bekerja. Aku terbaring di sebelah kanan ranjang dan sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa kulakukan. Dalam waktu singkat, batang kemaluanku mulai menjadi keras.

Tiba-tiba saja, pintu kamar dibuka dan Anna memasuki kamar. Dia pasti mengira aku telah tertidur lelap, sebab dengan pelan-pelan dia berjalan ke arah lemari bajunya sambil melepas pakaiannya satu persatu. Ternyata dia tidak memakai BH ataupun celana dalam. Payudaranya berdiri dengan kencang, dan bulu kemaluannya di potong pendek-pendek. Badannya yang aduhai semakin indah di bawah sinar bulan purnama.

Setelah memakai piyamanya dia tidur di sebelahku. Tangannya yang mulus mengelus pipiku sambil berbisik, “Loe suka apa yang loe lihat barusan nggak?” Aku tersentak kaget. Jadi tadi dia ganti baju di depanku dengan sengaja. Tangannya mulai turun dan memegang kejantananku yang sekeras baja. “Nakal juga loe, dari tadi diam aja.” Dia membalikkan badanku dan mulai menciumi wajahku. Mulai dari keningku, kemudian hidung, dan akhirnya mulutku. Aku membalas ciumannya dan akhirnya kami French Kissing. Lidah kami bertemu dan bergelut. Badan kami mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa permainan ini akan menjadi menarik.

Tanganku mulai membuka baju piyamanya. Tanpa melepaskan French Kiss kami, dia membuang bajunya ke tanah. Tangan nakalku mulai memainkan payudaranya yang indah. Tangannya mulai melepaskan kemejaku dan tak lama kemejaku juga menyusul di tanah.

Ciuman kami terlepas untuk mengambil nafas. Nafas kami mulai menjadi berat dan kami bergerak menurut insting kami. Aku mulai menciumi lehernya dan terus turun ke arah payudaranya. Aku menciumi payudaranya dan menjilati puting susunya. Setelah lumayan puas dengan payudaranya, aku menurunkan celana piyamanya. Tanganku mulai bermain di liang kewanitaan Anna. Aku memasukkan satu jari dan merasakan liang kewanitaannya membasah. Anna juga tak kalah ganasnya. Dia melepaskan sabuk dan celana jeans-ku. Celanaku menyusul baju dan celana kami di tanah. Celana dalamku juga menyusul.

Aku pun tidak mau buang-buang waktu lagi. Kujilati liang senggamanya dan klitorisnya. Langsung saja dia mengerang dengan penuh kepuasan. Sambil terus menjilati klitorisnya, aku memasukkan dua jari ke liang senggamanya. Tanganku yang satunya menemukan payudaranya dan mulai memelintir ringan puting susunya. Dia mengerang dengan gembira dan cairannya mulai tumpah dan dia pasti telah mendapat orgasme yang keras. Aku tidak peduli, dengan ganas kudorong maju mundur jemariku dan dengan keras kujilati klitorisnya. Tepat juga dugaanku, dia mendapat multiple orgasme.

Batang kejantananku yang sejak tadi keras dan online siap-siap kumasukkan ke lubang cintanya. Tetapi dia menarikku dan membaringkan tubuhku di ranjang. “Tenang aja…” katanya dengan suara yang merdu. Setelah itu, dia langsung mengulum batang kemaluanku dan dia langsung menaruh liang cintanya di atas wajahku. Langsung saja kujilati. Dalam posisi 69 ini, kami saling memuaskan satu sama lainnya. Tak lama, aku merasa air maniku akan keluar. “Anna, I’m cumming…” desahku diiringi dengan semprotan air maniku yang maha dahsyat dan langsung ditelan dengan mesra oleh Anna dan setelah orgasme yang keras itu, kurasakan Anna mencapai puncak orgasme seperti yang kualami tadi.

Kami sangat kecapaian dan berbaring sebentar. Rupanya Anna masih hot. Dia mulai memegang-megang batang kemaluanku dan genggamannya mulai bergerak naik turun. Batang kemaluanku yang offline langsung saja berdiri tegap. Anna duduk mengkangkang dan mengendarai batang kemaluanku. Badannya naik turun berirama. Tanganku memainkan puting susunya yang mulai mengeras dalam peganganku. Dia mulai mengerang dan berteriak, “Enak…!” Pinggulku juga turut bergerak naik mengikuti irama Anna.

Tanda-tanda ejakulasi mulai muncul dan irama kami semakin lebih cepat. “Ooh.. ooh..” Kami berdua mengerang bersamaan dan akhirnya aku merasakan otot-otot liang kewanitaannya mengeras dan cairan cintanya tumpah ke atas batang kemaluanku. Pada saat itu juga batang kemaluanku menembakkan cairan nikmatnya ke dalam liang kewanitaannya yang sempit itu.

Kami berpakaian kembali. Kami berdua tidur berpelukan sampai besok paginya. Pagi harinya, aku melihat Pak Dayat sedang melihat beberapa orang pemuda desa yang sedang memperbaiki ban mobilku dan setelah selesai, saya langsung pergi dari desa itu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan.

TAMAT